Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2024

Melo

 Aku menantikan sebuah drama yang berjudul "what comes after love". Minggu ini tayang 2 episode, Ya Allah, ini benar-benar buat patah hati. Belum selesai padahal.  "adakah cinta yang tidak berubah?".  "aku yakin ada, di suatu tempat"

Kabar Duka

Ada kabar duka dari Jambi hari ini, Bapak  Rektor telah berpulang. Berita yang cukup mengejutkan buatku, karena di sosial media masih melihat aktivitas beliau. Beliau berpulang disaat masa jabatan masih tergolong baru. Tentu, duka ini berlaku untuk semua civitas di sana.  Kita tahu, semuanya akan pulang. Tapi tak pernah benar-benar siap untuk menerima kabar duka. 

Berani

Baru-baru ini aku menonton sebuah film yang menurutku cukup menyentuh, judul filmya " It Ends With Us ". Berkisah tentang seorang perempuan yang menjadi saksi kekerasan rumah tangga saat ia tumbuh remaja dan kemudian terjebak dalam kondisi yang sama ketika ia menikah. Aku melihat ada keberanian dari sosok perempuan dalam film ini 1. Pemeran utama mengambil langkah yang sangat berani untuk mengakhiri hubungan yang menyakitinya. Pilihan yang luar biasa disaat dirinya masih mencintai si pria dan memiliki seorang anak perempuan. Berani dengan segala konsekuensi yang akan dia hadapi atas pilihan itu. Langkah berani selanjutnya yang dia pilih adalah kembali jatuh cinta, pada pria yang pernah berucap begini, "jika kamu sudah siap jatuh cinta lagi, jatuh cintalah padaku". Setelah siap, si pemeran utama akhirnya jatuh cinta lagi. 2. Ipar sekaligus sahabat si pemeran utama. Dia berkata begini, "sebagai seorang adik, aku akan memintamu untuk memaafkan Kakakku. Tapi sebaga...

Padam

"api dalam hatiku, tak akan padam sampai semuanya terbakar habis", itu dialog salah satu drama yang aku tonton. Terdengar begitu romantis sekaligus menyakitkan. Akupun pernah terbakar habis, lalu padam perlahan. 

Jentikan

Ada sebuah film yang bercerita tentang sepasang kekasih yang putus setelah tokoh perempuan mendapatkan jentikan di kepala oleh tokoh pria. Mereka melakukan itu setelah bertaruh saat menonton pertandingan sepak bola. Tokoh wanita marah besar setelah jentikan itu dan minta putus. Tokoh pria merasa kalau tokoh wanita terlalu sensitif dan menganggap kata putus itu tidak serius.  Titik jenuh, gelas yang sudah penuh lalu hanya butuh setetes lagi yang membuatnya meluap. Jentikan di kepala menyadarkan si wanita tentang hubungan mereka yang selama ini tidak seimbang. Tokoh laki-laki yang hanya datang di saat dia mau, membiarkan tokoh wanita kebasahan saat berbagi payung berdua, dan banyak hal lain. Tokoh pria menganggap hal-hal tersebut remeh namun bagi tokoh wanita sangat penting. Begitu pula dengan jentikan di kepala. Tokoh wanita merasa seharusnya tidak dijentik dengan keras, harusnya si tokoh pria memperlakukannya dengan lembut.  Tokoh wanita menyadari bagaimana prioritasnya selama...

Demikian

A: Dim, aku ngelakuin ini demi kamu. Kamu gak tahu apa yang sudah aku lakukan demi kamu? B: Aku gak pernah minta kamu ngelakuin hal itu Resti dan Dimas terdiam. Mereka sadar ada yang salah dalam hubungan ini.  

Mama (1)

Aku sudah punya milia di wajahku sejak SD. Mamaku merasa beliau adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk hal ini. Kata Mama, aku punya milia karena saat beliau mengandungku sering nyemil beras. Hahaha agak konyol, mungkin karena isi milia mirip seperti beras.  Tapi itulah yang dipikirkan mamaku. Menjadi Ibu berarti menjadi sosok yang paling bertanggung jawab saat ada hal yang dirasa kurang pada anaknya. Saat anak sakit, Ibu yang paling merasa bersalah, bahkan sebelum orang lain dengan sok tahu memberi pernyataan, "gara-gara ini, ibunya gak bisa jaga makanan, dll".  Menjadi Ibu adalah sebuah tanggung jawab. Aku belajar itu dari Mama. Sebagai anak, aku menyukai apa yang mamaku berikan padaku, bahkan genetis beliau. Aku mencintai diriku karena aku lahir dari cinta kedua orangtuaku.

Kabar

Abangku adalah orang yang paling jarang memberi kabar. Baginya tak ada kabar adalah kabar baik. Aku mulai sedikit memahami kondisi Abangku. Sebagai sesama anak rantau, kami tak banyak menghabiskan waktu di rumah. Banyak yang tidak kami ketahui tentang rumah. Banyak momen yang kami lewatkan. Terutama setelah mamaku sakit. Beliau berjuang luar biasa melawan penyakitnya semenjak tahun 2016. Tak banyak yang kami bisa lakukan sebagai anak. Aku tahu Abangku yang paling terluka perihal ini.  Aku hanya pernah satu kali melihat Abangku menangis. Waktu itu, pukul 10 malam, mama dan papa juga adikku yang hari itu pergi ke Padang tak kunjung pulang. Aku yang memanfaatkan momen itu untuk menonton sampai malam, Abangku menangis sambil sesekali mengecek keluar rumah. Mengecek dengan penuh khawatir sampai menangis. Abangku, yang aku tak tahu pundaknya terbuat dari apa, harus menanggung banyak hal, harus dihadapkan pada takdir Allah yang seperti sekarang. Jauh dari rumah dengan pikiran dan hati yan...

Takjub

 Aku seringkali takjub dengan cara Allah menyelamatkanku. Saat aku jatuh, saat aku ditimpa masalah, saat aku tak tahu harus bergantung pada siapa, Allah menyelamatkanku sekali lagi, berkali-kali. Tak hanya kali ini.

Rendah hati

Aku kagum dengan dosen-dosenku disini. Cara mereka yang tetap rendah hati dengan segala ilmu yang dimiliki. "Setiap orang punya kelebihan, saya yakin mahasiswa saya punya kelebihan dari saya. Lebih pintar dalam hal tertentu", begitu ucapan salah seorang dosen.  Mereka tak segan untuk belajar dan meminta maaf jika melakukan kesalahan. Mereka yang mencoba mengingat nama mahasiswa. Menghargai mahasiswa dengan pilihan masing-masing. 

Pulang

Sebagai anak rantau, yang sudah merantau sejak tahun 2010, pulang selalu menjadi hal yang spesial. Aku rindu rumah, mungkin bukan rumahnya. Aku rindu orang-orang yang menungguku pulang. 

Benar

"Aku tak perlu meluruskan pemikiran orang lain tentangku. Kebenaran tak pernah pergi kemana. Selalu ada disana, hanya masalah waktu".  Hal ini yang kuucap dalam kepala saat dengar kabar aneh dan nyeleneh tentangku. Ada beberapa yang sengaja merendahkan. Tapi pendapat mereka tak akan mengurangi nilai diriku. Setiap orang bebas memberi penilaian untuk orang lain. Aku juga memberi penilaian untuk diriku sendiri. So, tak masalah. Itu hanya sekedar opini.  Aku juga sedang belajar untuk tidak menghakimi. Aku tak membandingkan diriku.  Saat menghakimi orang lain, rasanya aku tak lebih baik dari mereka. 

Petrichor

Hari ini hujan pertama di Malang setelah musim kering yang cukup panjang. Katanya, saat tanah yang kering di basahi hujan, akan keluar aroma khas yang disebut petrichor. Katanya lagi, aroma ini membuat tenang dan membawa kenangan hahahaha....bukan hanya genangan. Yap, otak kita bisa menyimpan memori lewat aroma. Petrichor bahkan digunakan untuk rekayasa pemijahan ikan. Menarik juga.  Bagiku, petrichor membawa kantuk apalagi di siang hari tadi. Memang paling enak buat tidur sih, mana hari minggu lagi. 

Cinta yang salah

Aku pernah jatuh cinta.  Cinta pertama, saat masuk SMA. Aku pendam cukup lama, 11 tahun. Aku pikir hanya masalah waktu. Tapi semakin lama, semakin menyakitkan. Jatuh cinta sendirian. Aku kira aku akan baik-baik saja selama aku menyukainya, tapi semakin bertambah usia, aku semakin lelah.  Saat diterima bekerja di Jambi, aku ingin melihatnya. Bahkan aku sengaja ikut buka bersama teman-teman SMA di Padang, di tempat kerjanya, berharap bisa bertemu. Ada yang ingin ku katakan padanya. Tapi tak pernah ada kesempatan itu. Sampai akhirnya, setelah bekerja beberapa tahun, aku mengutarakan perasaanku padanya lewat pesan singkat. Dia tak menjawab apa-apa. Tak ada balasan. Hatiku patah, aku menangis cukup lama, sangat menyakitkan. Lalu aku bertemu seseorang. Dia berkata bahwa dia menyukaiku, tak hanya sekali. Dia membawa angin segar. Aku yang patah, bisa bangkit lagi. Aku berusaha lebih keras untuk bertahan. Redflag yang harusnya jadi tanda berhenti, aku warnai sendiri jadi warna hijau. K...

Kesadaran (Ph.D. Journey Part 2)

Mata kuliah yang sudah tidak ada tatap muka selama 3 tahun, tahun ini dibuat tatap muka kembali. Aku dan kawan-kawanku harus mengikuti mata kuliah secara tatap buka sembari mengejar 2 (dua) tagihan besar di akhir semester. Rasanya singkat, mudah-mudahan terkejar, beberapa kawan sudah mencapai target, aku masih berjuang untuk sampai ke tujuan.  Menariknya,  hari ini di awal pertemuan tatap muka. Dosenku berbicara tentang Consciousness, kalau diartikan secara harfiah artinya kondisi sadar dan ternyata ada skor untuk masing-masing diri kita. Sudah sesadar apakah kita? Menarik sekali. Tampaknya perjalanan menempuh gelar Doktor juga berkaitan dengan perjalanan menuju kesadaran. Proses perkembangan emosional, makanya banyak yang bilang kalau perjalanan menuju doktor adalah perjalanan sunyi, lebih banyak berkutat dengan emosi yang bergejolak dalam diri. Maka bukan lagi yang pintar intelektual yang bertahan, tapi yang paling pintar mengelola emosinya.  Aku sudah sesadar apa?

Tekanan (Ph.D Journey Part 1)

Mata kuliah semester ini tagihannya cukup berat. Pergolakan terjadi dalam kepala sendiri. Begitu riuh, aku jadi kesulitan untuk tidur dan nafsu makanku berkurang. Entah bagian mana yang membuat rumit. Apakah melihat teman-teman yang melaju pesat bahkan submit artikel ataukah kondisi dimana aku masih bertanya-tanya penelitian seperti apa yang layak untuk diajukan sebagai rencana riset seorang Doktor? Dilema, aku bingung, riset seperti apa yang harus kupilih? riset apa yang ingin kutekuni dalam jangka panjang? Aku berada dipersimpangan jalan, aku kebingungan memilih jalan mana yang harus ku tempuh? Agar bingungku tak berkepanjangan, aku terus berupaya untuk berprogres setiap hari. Walaupun hanya progres kecil, seperti membaca beberapa artikel yang bahkan kadang tak menambah kalimat dalam draft proposalku. Setiap kali membaca, muncul pertanyaan baru, yang mengharuskanku membaca lagi untuk menemukan jawaban yang kemudian terus mengarah ke pertanyaan selanjutnya.  Tapi tampaknya bukan d...

Kembali

Aku akan mencoba menulis lagi disini. Tempat ini, salah satu platform yang aku sukai dan tempat dimana kawan-kawan lama masih membaca tulisanku. Yap, hanya beberapa kawan saja yang tahu alamat blog ini. Bisa dibilang tempat tersembunyi, tempatku untuk bersembunyi, lalu ditemukan oleh kawan-kawan hahaha. Kurasa tak ada salahnya mencoba lagi. Semoga hal ini juga bisa mengurangi rasa kesal setelah kejadian lama yang mengharuskanku menghapus tulisan-tulisan yang lalu. Semoga perlahan benar-benar bisa memaafkan.   Aku kembali menulis