Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

Terbaik

Teman? Dalam kondisi sekarang, aku tak ingin berteman denganmu, tak berarti aku menjadi musuhmu. Aku tak membenci, hanya saja malas berurusan denganmu. Ada yang pernah bilang begini “aku masih berharap kamu makan makanan terbaikmu, tapi tidak di mejaku”, yah kurasa begitu

Narsistik

Dia yang narsis Semua hanya soal dia Yang dia butuhkan darimu: uang, mobil, rumah, hal-hal materialistik. Satu lagi, pujian dan sanjungan. Kalau bisa ngasih semua, selamat kamu berhasil memberi makan ego dia.  Dia tak mau disalahkan. Dia akan menyalahkanmu atas keadaan yang terjadi. Dia juga akan menyalahkan orang lain. Dia tak peduli dan minim empati. Hanya soal dirinya. Arogan, merasa spesial, senang memanfaatkan orang lain.

Manfaat

Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Tapi jangan sampai memanfaatkan orang lain.  Semoga dijauhkan dari orang yang hanya senang memanfaatkan orang lain dan dijauhkan dari sifat seperti itu. Kenapa begitu, karena orang begini mau enaknya saja. Saat tak lagi bermanfaat dibuang. Ada yang dimanfaatkan untuk menutupi sesuatu, nah ini lebih parah lagi. Ada yang senangnya cuma menerima saja, gak mau rugi. Ampun. 

Lama

Saat bersih-bersih malah terjebak nostalgia. Membaca kembali catatan lama di laptop dari 2018 hingga kini, ya ampun. Banyak hal yang sudah di lewati, Alhamdulillah.  Campur aduk. Ada rasa malu, ada sedih, bahagia, dan kecewa. Kalau dipikir memang perlu melewati itu semua untuk jadi aku yang sekarang. Kalau tak melewati rasa sakit tak terbentuk sistem imunnya. Kalau tak melewati rasa sedih, tak akan berhati-hati soal perasaan. Ada beberapa sesal Coba dulu responnya gini, coba dulu gak ditanggapi, coba dulu gak usah serius, coba dulu gak ketemu, coba dulu gak angkat telfon, coba dulu gak suka, mungkin gak perlu ribut. Kan orangnya juga biasa aja kalau dipikir sekarang, malah jahat, mungkin diri sendiri sudah jadi beban juga buat orang lain karena harapan yang ketinggian.  Tapi kalau gak melewati fase itu, gak akan setegar dan serasional sekarangkan?

Damai

Akhirnya tenang. Damai setelah menghadapi sendiri. Lukanya sembuh. Alhamdulillah. Tak terasa apa-apa lagi. Tenang......damai...... Saatnya mengevaluasi.

Kelapangan

Gambar
 

Tak cocok

Setelah perjalanan ini, ternyata memang ada hal yang tak bisa ku paksakan. Aku tak bisa menerima pengkhianatan. Mau sebesar apapun perasaan yang kupunya, walau sepenting apapun orang itu bagiku, nyatanya penghargaanku padanya akan berubah. Walaupun aku masih bisa memasang ekspresi biasa tapi di dalam rasanya benar-benar berbeda, tak lagi sama. Bahkan untuk orang yang telah ku kenal lama, ku kenal dekat. Aku tak bisa menerima hal itu. Walaupun dia berkhianat pada orang lain, aku tetap tak bisa menerima hal itu. Aku tak ingin berurusan dengan orang itu untuk hal-hal personal, akupun tak bisa percaya begitu saja pada orang seperti itu. Apakah ini trauma atau bentuk pertahanan diri? aku tak tahu pasti yang mana. Tapi intinya, aku tak cocok dengan pengkhianat dan pembohong.

Rendah

Seorang laki-laki mengumbar cerita kemana-mana tentang kondisi perceraiannya. Ia bercerai dengan istrinya karena menikah atas dasar perjodohan, bukan atas keinginannya sendiri. Dia bilang tak pernah menggauli istrinya karena baginya istrinya ini tak menarik, dia masih menyimpan perasaan pada mantan pacarnya.  Luar biasa, lelaki ini jahanam. Sekalipun hal yang dia beberkan adalah kenyataan, bukankah lebih baik dia menutup mulut. Menghargai perempuan yang sudah membuang waktu, tenaga, pikiran, dan perasaannya selama 1 tahun bersama laki-kali pengecut seperti dia. Orang lain tak perlu tahu rahasia pernikahanmu, mereka bahkan tak peduli. Lalu sekarang perempuan itu harus dilukai harga dirinya? Kamu bilang dia tak menarik? Astaga, mau dihancurkan seperti apa perempuan ini? Ada Allah, kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal.  Lalu teringat lagi, memang ada laki-laki macam begini, mengumbar kesana kemari tentang dia yang lebih superior dalam sebuah hubungan, dia yang dikejar-keja...