Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Alhamdulillah

Awal di Malang, aku sedikit shock. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi dalam satu waktu. Perjalanan ke Malang yang harus berkejar-kejaran dengan jadwal transit, berlari dari terminal 1 naik KA.Layang ke terminal 2, sampai di Malang hampir tengah malam. Sehari kuliah, malamnya kakak kos kecelakaan. Beberapa hari aku menginap di rumah sakit sebagai penjaga pasien. Pengalaman pertama, panik menelfon ambulans, lalu naik ambulans, dimintai keterangan oleh polisi, dan mengurus keperluan korban, bertemu dengan keluarga pelaku. Kepalaku agak penuh di minggu pertama itu. Aku ingin menunaikan tugasku berkuliah disini. Alhamdulillah, semuanya semakin terurai. Semua urusan di selesaikan oleh Allah satu persatu. Rasanya aku benar-benar tak kuasa bahkan untuk diriku sendiri, semuanya Allah yang atur dan Allah yang bereskan. Karena dana beasiswa belum cair, aku menghabiskan seluruh tabungan untuk awal berkuliah disini. Di saat sulit, disaat tabungan sudah menipis, aku dapat suntikan dana dari Ibu d...

Pulang

Akhir-akhir ini aku tak bisa mengobrol lewat videocall lagi dengan Mamaku, kami mengobrol lewat pesan di WA. Kanker yang diderita mama sudah menyebar ke saluran pernafasan, menghambat beliau bernafas. Beliau sesak nafas dan dibantu tabung oksigen sekarang, bahkan makanpun sulit. Malam ini Mama berkata begini "bisa dikasih umur sama Allah sampai pensiun Mama sudah sangat bersyukur. Jangan berlarut lagi sakitnya. Mama berharap anak-anak mama sehat, tak sakit seperti mama, Mama harap bisa lebih banyak bersedekah dan beribadah".  Ada saat-saat dimana Mama merasa down. Ada saat-saat dimana beliau optimis bisa sehat. Mama sudah beli tanah perkuburan, sudah menyiapkan wasiat. Beliau sudah bersiap pulang. Tapi sesiap apa sebenarnya? Apakah ada yang benar-benar siap? Apa yang lebih menyakitkan, saat Mama bahkan berpikir sudah tak punya banyak waktu, aku merantau untuk sekolah lagi, cukup jauh. Aku ingin pulang memeluk beliau, menggegam tangannya. Dari tahun 2016 beliau berjuang. Semua...

Membaik

 Segalanya membaik, lebih dari yang aku kira.  Sekalipun selalu mengusahakan yang terbaik dalam hidup, nyatanya aku tak pernah benar-benar tahu apa yang terbaik untukku. Aku mengalami penolakan, kegagalan, dan hal-hal tak menyenangkan lainnya, beberapa rencana dipatahkan Allah. Ku pikir itu sesuatu yang buruk, menyakitkan. Nyatanya saat percaya bahwa segala hal sudah direncanakan dengan sangat baik oleh Allah. Hatiku semakin tenang, yang inipun akan berlalu dan semuanya akan membaik. Aku akan baik-baik saja, bahkan lebih dari yang aku kira.  Penolakan, tak lagi kuterima secara personal. Pandangan oranglain tidak akan mengubah nilai diriku. Akulah yang paling berhak menilai diriku sendiri karena aku orang yang paling dekat dengan diriku, aku yang paling mengenal diriku. Apakah karena aku tak layak? Setiap orang layak untuk dipilih, tergantung siapa yang memilihnya dan aku seharusnya bisa memilih diriku sendiri. Kegagalan dan keterlambatan adalah upaya penyelamatan Allah...

Berat

Aku bertanya-tanya apa yang membuat berat? Lebih pada rasa marah, kesal, kecewa, ataukah rasa malu? Pada akhirnya harus belajar memaafkan. Memaafkan diri sendiri pernah berlaku bodoh seperti itu. Memaafkan diri yang pernah berbuat salah. Aku pernah membayangkan bagaimana jika dia meminta maaf dengan tulus? Yang terpikirkan adalah, kenapa dia meminta maaf? biar lebih ringan langkahnya? kembalikan aku yang dahulu, bisa? Hahahahaha, angan-angan. Nyatanya, tak perlu kata maaf. Akupun tak akan kembali menjadi diriku yang dahulu. Diriku yang sekarang lebih kuat. Aku sudah tak sama lagi. Lalu apa yang membuatnya berat? proses menerima ini semua sepertinya "sedikit" butuh waktu.

Saat Patah Hati

Aku berusaha menyeret tubuhku lagi hari ini. Terasa berat, kurasa yang membuat berat bukan berat badanku, tapi hati. Setiap pagi, aku berusaha cukup kuat untuk bangkit dari tempat tidur, memulai hari lagi. Aku berangkat tetap tepat waktu. Masuk kantor Jam 7 pagi, lalu lanjut mengajar les dari pukul 4 sore hingga jam 8 malam. Aku sampai di rumah pukul 9 malam. Bukankah harusnya sakitnya teralihkan? Tubuhku sudah berusaha sekeras itu tapi kepala dan hatiku masih sama. Bahkan saat perjalanan pulangpun, diatas motor aku bisa menangis. Satu kali, aku benar-benar tak sanggup, saat perjalanan pulang ke rumah, aku mampir ke rumah kawanku, aku menangis disana. Dia tak bertanya dan berkata apa-apa. Mengambilkanku segelas air. Setelah selesai menangis aku pulang. Aku tak ingin kakak di rumah tahu kalau aku patah hati. Situasi tak mengenakkan, cukup lama hari-hari kelam itu harus aku lewati. Aku kehilangan teman-temanku, mereka menjauh, karena "negative vibe"ku. Siapa yang tahan mendenga...