Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Abang (2)

Aku banyak belajar dari abangku. Hal yang paling berat yang harus kupelajari dari beliau adalah ilmu ikhlas. Setelah selesai wisuda S1 dan lulus berkas administrasi beasiswa, kami berdiskusi. Membicarakan perjalananku ke depan, aku menjelaskan tentang alur seleksi beasiswa selanjutnya dan harus menunggu kuliah tahun depan dengan harapan lulus beasiswa masih 50:50, beliau bilang "kuliah saja, biar Abang yang bantu". Beliau membiayai kuliah S2ku hingga selesai. Saat aku patah hati dan hampir kehilangan akal sehat, beliau bilang "pulang kampunglah, jangan jadi gila di negeri orang. Tinggalkan pekerjaanmu disana, sembuhkan dirimu di rumah, abang akan bantu biaya hidupmu di kampung sampai kamu sembuh". Abangku, bukan beliau yang membuatku terluka tapi beliau yang harus ikut menyembuhkanku. Lalu aku menyia-nyiakan waktu dan tenagaku untuk orang yang bahkan tak peduli sudah menyakitiku. Aku tak akan kembali pada fase "bodoh" itu. Sekarang aku kuliah S3, saat uang...

Abang (1)

Salah satu hal yang aku sukai dari bumi ini adalah abangku. Beliau memiliki banyak tanggung jawab. Aku melihatnya menangis pertama kali saat kedua orangtua kami pulang larut malam dari perjalanan luar kota. Bagiku, hari itu hari yang menyenangkan karena bisa menonton TV sampai malam, tapi bagi abangku hari itu adalah satu hari yang membuat khawatir hingga membuatnya menangis.

Malam

Suatu malam aku terbangun, bergegas ke kamar Ibuku untuk mengecek "apakah masih berdenyut jantungnya? Apakah masih bernafas?". Malam yang penuh khawatir. Aku lalu tidur di samping beliau, malam-malam selanjutnya begitu.

Harga Diri

Aku belajar tentang harga diri. Aku tak lagi merasa terluka saat ingin melakukan hal yang ingin aku lakukan. Walaupun mendapatkan penolakan, harga diriku tak akan terlukai karenanya. Aku belajar menerima bahwa aku tak bisa memaksakan ekspektasiku pada tindakan orang lain. 

Jatuh cinta

Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku bisa jatuh cinta lagi?  Hahaha bagiku jatuh cinta pertama itu seperti di film-film. Saat SMA, aku jatuh cinta pada seorang anak laki-laki yang menulis surat cinta untuk senior. Padahal aku hanya jadi pendengar saat surat itu dibacakan di hadapan warga sekolah. Aku malah jatuh cinta, ya ampun. Bertahan begitu lama cinta itu, namun seiring waktu memudar, karena nyatanya aku berharap ingin dicintai juga olehnya. Awalnya kukira akan baik-baik saja mencinta sendiri. Aku fokus pada studiku, aku tak pernah galau soal cinta karena bagiku dia sosok idaman yang istimewa. Memandangnya dari jauh, untuk waktu yang cukup lama.  Seiring bertambahnya usia, aku mulai bertanya-tanya, apakah ada masa depan untuk kami berdua? Aku berusaha memberitahunya. Tapi mungkin memang rasa ini hanya punyaku. Aku ingin dicintai olehnya, karena gengsi dan bentuk perlindungan diri. Aku mengirimkan pesan yang kukira akan jadi pesan terakhir untuknya. Aku akan mengakh...

Alhamdulillah

Awal di Malang, aku sedikit shock. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi dalam satu waktu. Perjalanan ke Malang yang harus berkejar-kejaran dengan jadwal transit, berlari dari terminal 1 naik KA.Layang ke terminal 2, sampai di Malang hampir tengah malam. Sehari kuliah, malamnya kakak kos kecelakaan. Beberapa hari aku menginap di rumah sakit sebagai penjaga pasien. Pengalaman pertama, panik menelfon ambulans, lalu naik ambulans, dimintai keterangan oleh polisi, dan mengurus keperluan korban, bertemu dengan keluarga pelaku. Kepalaku agak penuh di minggu pertama itu. Aku ingin menunaikan tugasku berkuliah disini. Alhamdulillah, semuanya semakin terurai. Semua urusan di selesaikan oleh Allah satu persatu. Rasanya aku benar-benar tak kuasa bahkan untuk diriku sendiri, semuanya Allah yang atur dan Allah yang bereskan. Karena dana beasiswa belum cair, aku menghabiskan seluruh tabungan untuk awal berkuliah disini. Di saat sulit, disaat tabungan sudah menipis, aku dapat suntikan dana dari Ibu d...

Pulang

Akhir-akhir ini aku tak bisa mengobrol lewat videocall lagi dengan Mamaku, kami mengobrol lewat pesan di WA. Kanker yang diderita mama sudah menyebar ke saluran pernafasan, menghambat beliau bernafas. Beliau sesak nafas dan dibantu tabung oksigen sekarang, bahkan makanpun sulit. Malam ini Mama berkata begini "bisa dikasih umur sama Allah sampai pensiun Mama sudah sangat bersyukur. Jangan berlarut lagi sakitnya. Mama berharap anak-anak mama sehat, tak sakit seperti mama, Mama harap bisa lebih banyak bersedekah dan beribadah".  Ada saat-saat dimana Mama merasa down. Ada saat-saat dimana beliau optimis bisa sehat. Mama sudah beli tanah perkuburan, sudah menyiapkan wasiat. Beliau sudah bersiap pulang. Tapi sesiap apa sebenarnya? Apakah ada yang benar-benar siap? Apa yang lebih menyakitkan, saat Mama bahkan berpikir sudah tak punya banyak waktu, aku merantau untuk sekolah lagi, cukup jauh. Aku ingin pulang memeluk beliau, menggegam tangannya. Dari tahun 2016 beliau berjuang. Semua...

Membaik

 Segalanya membaik, lebih dari yang aku kira.  Sekalipun selalu mengusahakan yang terbaik dalam hidup, nyatanya aku tak pernah benar-benar tahu apa yang terbaik untukku. Aku mengalami penolakan, kegagalan, dan hal-hal tak menyenangkan lainnya, beberapa rencana dipatahkan Allah. Ku pikir itu sesuatu yang buruk, menyakitkan. Nyatanya saat percaya bahwa segala hal sudah direncanakan dengan sangat baik oleh Allah. Hatiku semakin tenang, yang inipun akan berlalu dan semuanya akan membaik. Aku akan baik-baik saja, bahkan lebih dari yang aku kira.  Penolakan, tak lagi kuterima secara personal. Pandangan oranglain tidak akan mengubah nilai diriku. Akulah yang paling berhak menilai diriku sendiri karena aku orang yang paling dekat dengan diriku, aku yang paling mengenal diriku. Apakah karena aku tak layak? Setiap orang layak untuk dipilih, tergantung siapa yang memilihnya dan aku seharusnya bisa memilih diriku sendiri. Kegagalan dan keterlambatan adalah upaya penyelamatan Allah...

Berat

Aku bertanya-tanya apa yang membuat berat? Lebih pada rasa marah, kesal, kecewa, ataukah rasa malu? Pada akhirnya harus belajar memaafkan. Memaafkan diri sendiri pernah berlaku bodoh seperti itu. Memaafkan diri yang pernah berbuat salah. Aku pernah membayangkan bagaimana jika dia meminta maaf dengan tulus? Yang terpikirkan adalah, kenapa dia meminta maaf? biar lebih ringan langkahnya? kembalikan aku yang dahulu, bisa? Hahahahaha, angan-angan. Nyatanya, tak perlu kata maaf. Akupun tak akan kembali menjadi diriku yang dahulu. Diriku yang sekarang lebih kuat. Aku sudah tak sama lagi. Lalu apa yang membuatnya berat? proses menerima ini semua sepertinya "sedikit" butuh waktu.

Saat Patah Hati

Aku berusaha menyeret tubuhku lagi hari ini. Terasa berat, kurasa yang membuat berat bukan berat badanku, tapi hati. Setiap pagi, aku berusaha cukup kuat untuk bangkit dari tempat tidur, memulai hari lagi. Aku berangkat tetap tepat waktu. Masuk kantor Jam 7 pagi, lalu lanjut mengajar les dari pukul 4 sore hingga jam 8 malam. Aku sampai di rumah pukul 9 malam. Bukankah harusnya sakitnya teralihkan? Tubuhku sudah berusaha sekeras itu tapi kepala dan hatiku masih sama. Bahkan saat perjalanan pulangpun, diatas motor aku bisa menangis. Satu kali, aku benar-benar tak sanggup, saat perjalanan pulang ke rumah, aku mampir ke rumah kawanku, aku menangis disana. Dia tak bertanya dan berkata apa-apa. Mengambilkanku segelas air. Setelah selesai menangis aku pulang. Aku tak ingin kakak di rumah tahu kalau aku patah hati. Situasi tak mengenakkan, cukup lama hari-hari kelam itu harus aku lewati. Aku kehilangan teman-temanku, mereka menjauh, karena "negative vibe"ku. Siapa yang tahan mendenga...

Mulai

Aku memulai lagi, alhamdulillah mendapatkan kesempatan melanjutkan studi, kembali ke Malang. Walaupun sudah pernah berada disini 2 tahun tapi kembali kesini 6 tahun setelahnya, kota ini membuatku agak kikuk, khawatir, dan sedikit merasa asing. Hahaha, mungkin karena kosanku saat ini yang berada di lingkungan berbeda atau karena kawan-kawan yang tak lagi bisa kutemui disini. Ah, rasanya kikuk. Walaupun sudah membawa motor, aku masih jadi mahasiswa kupu-kupu beberapa hari ini. Bahkan kalau timbul malasku, aku memesan gofood saking malasnya berkeliling.  Semoga kuliah ini dilancarkan oleh Allah. Aku sudah rindu rumah. Semoga hal-hal baik datang, aamiin ya rabbal alamiin.

Hai

Hai Alasan awal aku menulis di blog ini karena tugas kuliah. Hahaha, awal yang selanjutnya jadi tempatku bercerita pada kawan-kawan dekat. Blog ini bukanlah blog populer, tak banyak orang yang tahu, kecuali teman dekat atau memang ada orang yang iseng lalu mampir kesini, tapi itu sangat jarang. Tak begitu spesial bagi orang lain, tapi bagiku blog ini begitu penting. Sampai akhirnya negara api menyerang, ada orang yang memintaku untuk menghapus tulisan di blog ini karena tulisanku tak enak dibaca katanya, alasan lainnya karena ceritaku tentang dia. Hahahaha, blog ini bercerita tentangku, kisah yang ku tulis, atau terbayang olehku. Kenapa kamu tersinggung, kalau tak enak dibaca, kamu bisa baca blog yang lain, ada ribuan blog di dunia ini. Aku tak akan lupa perlakuan kasar itu. Aku bersikeras, akulah yang benar. Tulisanku bukan kebohongan, aku tak menyebutkan nama siapa. Aku bersikeras, ingin membuktikan akulah yang benar. Tapi nyatanya kebenaran tak kemana-kemana. Saat mencari kebenaran,...

Terbaik

Teman? Dalam kondisi sekarang, aku tak ingin berteman denganmu, tak berarti aku menjadi musuhmu. Aku tak membenci, hanya saja malas berurusan denganmu. Ada yang pernah bilang begini “aku masih berharap kamu makan makanan terbaikmu, tapi tidak di mejaku”, yah kurasa begitu

Narsistik

Dia yang narsis Semua hanya soal dia Yang dia butuhkan darimu: uang, mobil, rumah, hal-hal materialistik. Satu lagi, pujian dan sanjungan. Kalau bisa ngasih semua, selamat kamu berhasil memberi makan ego dia.  Dia tak mau disalahkan. Dia akan menyalahkanmu atas keadaan yang terjadi. Dia juga akan menyalahkan orang lain. Dia tak peduli dan minim empati. Hanya soal dirinya. Arogan, merasa spesial, senang memanfaatkan orang lain.

Manfaat

Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Tapi jangan sampai memanfaatkan orang lain.  Semoga dijauhkan dari orang yang hanya senang memanfaatkan orang lain dan dijauhkan dari sifat seperti itu. Kenapa begitu, karena orang begini mau enaknya saja. Saat tak lagi bermanfaat dibuang. Ada yang dimanfaatkan untuk menutupi sesuatu, nah ini lebih parah lagi. Ada yang senangnya cuma menerima saja, gak mau rugi. Ampun. 

Lama

Saat bersih-bersih malah terjebak nostalgia. Membaca kembali catatan lama di laptop dari 2018 hingga kini, ya ampun. Banyak hal yang sudah di lewati, Alhamdulillah.  Campur aduk. Ada rasa malu, ada sedih, bahagia, dan kecewa. Kalau dipikir memang perlu melewati itu semua untuk jadi aku yang sekarang. Kalau tak melewati rasa sakit tak terbentuk sistem imunnya. Kalau tak melewati rasa sedih, tak akan berhati-hati soal perasaan. Ada beberapa sesal Coba dulu responnya gini, coba dulu gak ditanggapi, coba dulu gak usah serius, coba dulu gak ketemu, coba dulu gak angkat telfon, coba dulu gak suka, mungkin gak perlu ribut. Kan orangnya juga biasa aja kalau dipikir sekarang, malah jahat, mungkin diri sendiri sudah jadi beban juga buat orang lain karena harapan yang ketinggian.  Tapi kalau gak melewati fase itu, gak akan setegar dan serasional sekarangkan?

Damai

Akhirnya tenang. Damai setelah menghadapi sendiri. Lukanya sembuh. Alhamdulillah. Tak terasa apa-apa lagi. Tenang......damai...... Saatnya mengevaluasi.

Kelapangan

Gambar
 

Tak cocok

Setelah perjalanan ini, ternyata memang ada hal yang tak bisa ku paksakan. Aku tak bisa menerima pengkhianatan. Mau sebesar apapun perasaan yang kupunya, walau sepenting apapun orang itu bagiku, nyatanya penghargaanku padanya akan berubah. Walaupun aku masih bisa memasang ekspresi biasa tapi di dalam rasanya benar-benar berbeda, tak lagi sama. Bahkan untuk orang yang telah ku kenal lama, ku kenal dekat. Aku tak bisa menerima hal itu. Walaupun dia berkhianat pada orang lain, aku tetap tak bisa menerima hal itu. Aku tak ingin berurusan dengan orang itu untuk hal-hal personal, akupun tak bisa percaya begitu saja pada orang seperti itu. Apakah ini trauma atau bentuk pertahanan diri? aku tak tahu pasti yang mana. Tapi intinya, aku tak cocok dengan pengkhianat dan pembohong.

Rendah

Seorang laki-laki mengumbar cerita kemana-mana tentang kondisi perceraiannya. Ia bercerai dengan istrinya karena menikah atas dasar perjodohan, bukan atas keinginannya sendiri. Dia bilang tak pernah menggauli istrinya karena baginya istrinya ini tak menarik, dia masih menyimpan perasaan pada mantan pacarnya.  Luar biasa, lelaki ini jahanam. Sekalipun hal yang dia beberkan adalah kenyataan, bukankah lebih baik dia menutup mulut. Menghargai perempuan yang sudah membuang waktu, tenaga, pikiran, dan perasaannya selama 1 tahun bersama laki-kali pengecut seperti dia. Orang lain tak perlu tahu rahasia pernikahanmu, mereka bahkan tak peduli. Lalu sekarang perempuan itu harus dilukai harga dirinya? Kamu bilang dia tak menarik? Astaga, mau dihancurkan seperti apa perempuan ini? Ada Allah, kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal.  Lalu teringat lagi, memang ada laki-laki macam begini, mengumbar kesana kemari tentang dia yang lebih superior dalam sebuah hubungan, dia yang dikejar-keja...

Repot

Kenapa repot betul? menuliskan kalimat panjang dengan ketikan yang penuh kehati-hatian. Berusaha menjelaskan apa? Orang itu tak akan mengerti. Rasa sakitmu? Orang itu tak berempati, dia tak merasa bersalah, dia tak peduli kamu tersakiti. Dia berbohong, berkhianat, merendahkanmu. Apakah dia sadar? Kenapa repot betul? menuliskan kalimat panjang saat dia mengajak diskusi. Lalu tanggapannya adalah "kamu lihat google ya". Hahaha sangat dangkal pikirannya terhadapmu. Mau menjelaskan apa juga dia hanya ingin mengatai-ngataimu, merendahkanmu.  Kenapa repot betul? Kamu malah mendengarkan kata-katanya. Dia bilang "tulisanmu tak enak dibaca". Hahahaha lalu kamu repot menghapus tulisan yang sudah kamu mulai dari tahun 2011 dan menutup blog selama beberapa bulan, mungkin hampir setahun untuk mencerna semuanya, pikirmu tak mau ribut dengannya. Kamu mencoba memahami kondisi mereka. Kenapa repot betul? Diapun tak lagi penting sekarang. Kamu bebas menulis apapun. Tak pernah ada nama...

Doa

Kamu tak perlu mendoakan hal buruk terjadi pada mereka yang menyakitimu. Bukankah apa yang mereka perbuat untuk diri mereka sendiri. Orang yang dzalim, balasannya di dunia dan di akhirat. Pelajarannya, jangan sampai kamu berbuat dzalim pada orang lain.

Merelakan

Merelakan semua yang sudah terjadi. Perlakuan buruk bahkan hakku untuk menulis di blog ini. Rasanya sudah tak sama lagi, terasa asing mungkin karena sudah lama kutinggalkan. Tak adil, tapi bukankah proses ini memang harus di lewati? Mari ucapkan selamat tinggal pada apa-apa yang memberatkan hati. 

Bahagia

Berbahagialah                     Hiduplah dengan bahagia