Abang (2)

Aku banyak belajar dari abangku. Hal yang paling berat yang harus kupelajari dari beliau adalah ilmu ikhlas. Setelah selesai wisuda S1 dan lulus berkas administrasi beasiswa, kami berdiskusi. Membicarakan perjalananku ke depan, aku menjelaskan tentang alur seleksi beasiswa selanjutnya dan harus menunggu kuliah tahun depan dengan harapan lulus beasiswa masih 50:50, beliau bilang "kuliah saja, biar Abang yang bantu". Beliau membiayai kuliah S2ku hingga selesai.

Saat aku patah hati dan hampir kehilangan akal sehat, beliau bilang "pulang kampunglah, jangan jadi gila di negeri orang. Tinggalkan pekerjaanmu disana, sembuhkan dirimu di rumah, abang akan bantu biaya hidupmu di kampung sampai kamu sembuh".

Abangku, bukan beliau yang membuatku terluka tapi beliau yang harus ikut menyembuhkanku. Lalu aku menyia-nyiakan waktu dan tenagaku untuk orang yang bahkan tak peduli sudah menyakitiku. Aku tak akan kembali pada fase "bodoh" itu.

Sekarang aku kuliah S3, saat uang beasiswa masih belum cair dan tabunganku sudah habis untuk biaya hidup 1 semester di perantauan, beliau jugalah yang membantuku berpijak disini.

Beliau bilang tak perlu membalasnya. Dia hanya ingin aku bahagia dan baik-baik saja. Seluas apa hatinya? 

Semoga Allah luaskan rezkinya, Allah mudahkan urusannya, Allah jaga dia dan keluarganya, Aamiin ya rabbal alamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berakhir