Jatuh cinta
Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku bisa jatuh cinta lagi?
Hahaha bagiku jatuh cinta pertama itu seperti di film-film. Saat SMA, aku jatuh cinta pada seorang anak laki-laki yang menulis surat cinta untuk senior. Padahal aku hanya jadi pendengar saat surat itu dibacakan di hadapan warga sekolah. Aku malah jatuh cinta, ya ampun. Bertahan begitu lama cinta itu, namun seiring waktu memudar, karena nyatanya aku berharap ingin dicintai juga olehnya. Awalnya kukira akan baik-baik saja mencinta sendiri. Aku fokus pada studiku, aku tak pernah galau soal cinta karena bagiku dia sosok idaman yang istimewa. Memandangnya dari jauh, untuk waktu yang cukup lama.
Seiring bertambahnya usia, aku mulai bertanya-tanya, apakah ada masa depan untuk kami berdua? Aku berusaha memberitahunya. Tapi mungkin memang rasa ini hanya punyaku. Aku ingin dicintai olehnya, karena gengsi dan bentuk perlindungan diri. Aku mengirimkan pesan yang kukira akan jadi pesan terakhir untuknya. Aku akan mengakhiri perasaan ini. Aku kirimkan pesan yang kuharap bisa melukai harga dirinya dan harga diriku tetap terjaga. Nyatanya itu bukan pesan terakhir. Beberapa hari lalu aku mendapatkan kabar ayahnya meninggal dunia. Aku mengirimkan pesan duka. Aku tak bisa abai soal ini. Semoga dia dan keluarga diberi ketabahan dan kekuatan oleh Allah. Pasti berat baginya dan keluarga. Tak terbayangkan olehku.
Apakah aku pernah jatuh cinta lagi? Jika yang membuat sakit itu cinta, maka bisa jadi jawabannya ya. Aku benar-benar dipecundangi oleh seseorang yang pandai berbohong. Adakah yang jujur dari dirinya selama ini? Ah sudahlah, sudah berlalu juga. Semoga dia mendapatkan kebaikan dari Allah.
Apakah aku akan jatuh cinta lagi? Aku harap begitu. Jatuh cinta yang berjuta rasanya. Aku harap jatuh cinta itu tak lagi cinta sendiri, tak lagi dibohongi. Cinta yang membuatku nyaman dengan diriku, cinta yang mendekatkanku kepada Allah. Cinta yang sederhana seperti puisinya Bapak Sapardi. Ah, ya. Aku ingin jatuh cinta lagi.
Komentar
Posting Komentar