Pulang
Akhir-akhir ini aku tak bisa mengobrol lewat videocall lagi dengan Mamaku, kami mengobrol lewat pesan di WA. Kanker yang diderita mama sudah menyebar ke saluran pernafasan, menghambat beliau bernafas. Beliau sesak nafas dan dibantu tabung oksigen sekarang, bahkan makanpun sulit.
Malam ini Mama berkata begini "bisa dikasih umur sama Allah sampai pensiun Mama sudah sangat bersyukur. Jangan berlarut lagi sakitnya. Mama berharap anak-anak mama sehat, tak sakit seperti mama, Mama harap bisa lebih banyak bersedekah dan beribadah".
Ada saat-saat dimana Mama merasa down. Ada saat-saat dimana beliau optimis bisa sehat.
Mama sudah beli tanah perkuburan, sudah menyiapkan wasiat. Beliau sudah bersiap pulang. Tapi sesiap apa sebenarnya? Apakah ada yang benar-benar siap?
Apa yang lebih menyakitkan, saat Mama bahkan berpikir sudah tak punya banyak waktu, aku merantau untuk sekolah lagi, cukup jauh. Aku ingin pulang memeluk beliau, menggegam tangannya. Dari tahun 2016 beliau berjuang. Semua pengobatan sudah kami coba, sejauh yang kami bisa upayakan. Mamaku sangat ingin sembuh, ingin melihatku menikah dan punya anak.
Aku bisa apa Ma? Haruskah aku pulang? Aku berharap Mama panjang umur. Masih banyak yang ingin kulakukan bersama Mama. Masih banyak, sangat banyak Ma.
Komentar
Posting Komentar