Postingan

Abang (2)

Aku banyak belajar dari abangku. Hal yang paling berat yang harus kupelajari dari beliau adalah ilmu ikhlas. Setelah selesai wisuda S1 dan lulus berkas administrasi beasiswa, kami berdiskusi. Membicarakan perjalananku ke depan, aku menjelaskan tentang alur seleksi beasiswa selanjutnya dan harus menunggu kuliah tahun depan dengan harapan lulus beasiswa masih 50:50, beliau bilang "kuliah saja, biar Abang yang bantu". Beliau membiayai kuliah S2ku hingga selesai. Saat aku patah hati dan hampir kehilangan akal sehat, beliau bilang "pulang kampunglah, jangan jadi gila di negeri orang. Tinggalkan pekerjaanmu disana, sembuhkan dirimu di rumah, abang akan bantu biaya hidupmu di kampung sampai kamu sembuh". Abangku, bukan beliau yang membuatku terluka tapi beliau yang harus ikut menyembuhkanku. Lalu aku menyia-nyiakan waktu dan tenagaku untuk orang yang bahkan tak peduli sudah menyakitiku. Aku tak akan kembali pada fase "bodoh" itu. Sekarang aku kuliah S3, saat uang...

Abang (1)

Salah satu hal yang aku sukai dari bumi ini adalah abangku. Beliau memiliki banyak tanggung jawab. Aku melihatnya menangis pertama kali saat kedua orangtua kami pulang larut malam dari perjalanan luar kota. Bagiku, hari itu hari yang menyenangkan karena bisa menonton TV sampai malam, tapi bagi abangku hari itu adalah satu hari yang membuat khawatir hingga membuatnya menangis.

Malam

Suatu malam aku terbangun, bergegas ke kamar Ibuku untuk mengecek "apakah masih berdenyut jantungnya? Apakah masih bernafas?". Malam yang penuh khawatir. Aku lalu tidur di samping beliau, malam-malam selanjutnya begitu.

Harga Diri

Aku belajar tentang harga diri. Aku tak lagi merasa terluka saat ingin melakukan hal yang ingin aku lakukan. Walaupun mendapatkan penolakan, harga diriku tak akan terlukai karenanya. Aku belajar menerima bahwa aku tak bisa memaksakan ekspektasiku pada tindakan orang lain. 

Jatuh cinta

Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku bisa jatuh cinta lagi?  Hahaha bagiku jatuh cinta pertama itu seperti di film-film. Saat SMA, aku jatuh cinta pada seorang anak laki-laki yang menulis surat cinta untuk senior. Padahal aku hanya jadi pendengar saat surat itu dibacakan di hadapan warga sekolah. Aku malah jatuh cinta, ya ampun. Bertahan begitu lama cinta itu, namun seiring waktu memudar, karena nyatanya aku berharap ingin dicintai juga olehnya. Awalnya kukira akan baik-baik saja mencinta sendiri. Aku fokus pada studiku, aku tak pernah galau soal cinta karena bagiku dia sosok idaman yang istimewa. Memandangnya dari jauh, untuk waktu yang cukup lama.  Seiring bertambahnya usia, aku mulai bertanya-tanya, apakah ada masa depan untuk kami berdua? Aku berusaha memberitahunya. Tapi mungkin memang rasa ini hanya punyaku. Aku ingin dicintai olehnya, karena gengsi dan bentuk perlindungan diri. Aku mengirimkan pesan yang kukira akan jadi pesan terakhir untuknya. Aku akan mengakh...

Alhamdulillah

Awal di Malang, aku sedikit shock. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi dalam satu waktu. Perjalanan ke Malang yang harus berkejar-kejaran dengan jadwal transit, berlari dari terminal 1 naik KA.Layang ke terminal 2, sampai di Malang hampir tengah malam. Sehari kuliah, malamnya kakak kos kecelakaan. Beberapa hari aku menginap di rumah sakit sebagai penjaga pasien. Pengalaman pertama, panik menelfon ambulans, lalu naik ambulans, dimintai keterangan oleh polisi, dan mengurus keperluan korban, bertemu dengan keluarga pelaku. Kepalaku agak penuh di minggu pertama itu. Aku ingin menunaikan tugasku berkuliah disini. Alhamdulillah, semuanya semakin terurai. Semua urusan di selesaikan oleh Allah satu persatu. Rasanya aku benar-benar tak kuasa bahkan untuk diriku sendiri, semuanya Allah yang atur dan Allah yang bereskan. Karena dana beasiswa belum cair, aku menghabiskan seluruh tabungan untuk awal berkuliah disini. Di saat sulit, disaat tabungan sudah menipis, aku dapat suntikan dana dari Ibu d...

Pulang

Akhir-akhir ini aku tak bisa mengobrol lewat videocall lagi dengan Mamaku, kami mengobrol lewat pesan di WA. Kanker yang diderita mama sudah menyebar ke saluran pernafasan, menghambat beliau bernafas. Beliau sesak nafas dan dibantu tabung oksigen sekarang, bahkan makanpun sulit. Malam ini Mama berkata begini "bisa dikasih umur sama Allah sampai pensiun Mama sudah sangat bersyukur. Jangan berlarut lagi sakitnya. Mama berharap anak-anak mama sehat, tak sakit seperti mama, Mama harap bisa lebih banyak bersedekah dan beribadah".  Ada saat-saat dimana Mama merasa down. Ada saat-saat dimana beliau optimis bisa sehat. Mama sudah beli tanah perkuburan, sudah menyiapkan wasiat. Beliau sudah bersiap pulang. Tapi sesiap apa sebenarnya? Apakah ada yang benar-benar siap? Apa yang lebih menyakitkan, saat Mama bahkan berpikir sudah tak punya banyak waktu, aku merantau untuk sekolah lagi, cukup jauh. Aku ingin pulang memeluk beliau, menggegam tangannya. Dari tahun 2016 beliau berjuang. Semua...