Postingan

Siap

Hari itu Mama menelfonku. Mama berkonsultasi ke dokter dan meminta rujukan ke bagian bedah. Mama sudah bersiap, itu kata beliau lewat telfon. 

Baiknya

Temanku bertanya, apa hal yang membuatmu pernah menyukainya?  Aku tertegun, tak ada kebaikannya yang bisa kusampaikan hari itu. Aku menjawab, "apa ya Mbak?" Ya, aku tak melihat karir, pendidikan, dan harta yang dia punya. Dahulu aku bisa melihat kebaikan pada dirinya. Sekarang hanya keburukannya yang terlihat.  Aku sudah selesai dengan perasaanku. Dia tak ada lagi disini.

Jujur

Aku tak tahu akan berapa lama, tapi kuharap cinta ini nyata Entah sampai kapan, tapi aku ingin merasakan cinta yang benar-benar ada Apakah kamu sungguh-sungguh?  

Kasih

Aku senang kamu merasa dicintai olehku Tapi apa kamu memikirkan bagaimana perasaanku? Apakah aku penting buat kamu? Apa kamu ada waktu buatku?

Tahu

Aku tahu kamu suka caramel machiato Aku tahu kamu lebih memilih paha ayam dari bagian lain Aku tahu kamu tak tahan pedas Tapi kamu, bahkan tak tahu kalau aku tak sanggup minum kopi

Tuan

Kemarin, ada yang berbeda dari hari-hariku. Ada yang kutunggu, sekedar pesan darimu atau waktu untuk bertemu. Rindu. Pernah sesayang itu. Hari ini, aku tak lagi menunggu. Pesanmu tak lagi jadi notifikasi favoritku. Dirimu berubah jadi biasa. Mungkin bukan kamu yang berubah, tapi perasaanku padamu.  Tuan, mari tak bertemu lagi di kesempatan manapun di masa depan. 

Apakah mau ku kamu?

dari percakapan panjang bersama kawanku pagi itu, dia seolah berkata "kok kamu tega sama diri kamu sendiri, cuma karena dia".  Aku mendengar terlalu banyak hal tentangmu dari kawanku ini. Hal-hal yang membuatku terkejut dan sedih. Kamu gitu ya sama aku. Ternyata nilaiku cuma segini dimatamu. Akupun bertanya pada diriku sendiri, "apa aku masih mau kamu? apa orang kayak kamu yang aku mau? Gimana kalau potensi baik yang aku lihat di kamu, bukan kamu yang sebenarnya. Tapi potensi baik dalam diriku sendiri. Aku berhenti karena aku berhak dicintai dengan layak. Aku berhak mendapatkan usaha, penghargaan, dan cinta yang setara. Aku menjadikanmu tujuan, tapi kamu entah melangkah kemana. Kita begitu berbeda. Aku sudah tak mau lagi.